keyln.com
Tampilkan postingan dengan label sma immanuel batu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sma immanuel batu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 November 2014

LIVING A HOLY LIFE IS THE BEST CHOICE



LIVING  A HOLY LIFE IS THE BEST CHOICE
( Retreat Kelas X-XI tahun Pelajaran 2013-2014)

SMA Immanuel adalah sekolah yang mempunyai visi mencetak lulusan yang berprestasi secara akademis dan memiliki karakter yang mulia. Untuk mencapai visi tersebut SMA Immanuel memberikan pembelajaran dan pembinaan untuk meningkatkan kualitas akademis dan pembentukan karakter.
Kegiatan retreat yang telah berlangsung di Sarfat Sidomulyo Batu pada tanggal 20-21 Mei 2014 lalu merupakan salah satu kegiatan untuk membina seluruh peserta didik sehingga karakter mereka dapat di bentuk untuk menjadi semakin baik dan benar.
Tidak hanya sampai pada pembentukan karakter, kegiatan ini juga diadakan untuk mempersiapkan mental para peserta didik kelas X dan XI untuk menghadapi ujian kenaikan kelas yang diselenggarakan mulai 2 Juni – 10 Juni 2014.
Tujuan lain dari acara ini adalah untuk menumbuhkan iman yang kuat dari peserta didik SMA Immanuel  dan menumbuhkan semangat kekeluargaan antara guru dan peserta didik SMA Immanuel Batu sehingga  seluruh peserta didik dapat mempunyai kualitas rohani yang baik dan terapplikasi dalam kehidupannnya. Rasa kekeluargaan dalam keluarga besar Immanuel juga harus terus - menerus dipupuk untuk menciptakan suasana belajar yang aman , nyaman dan kondusif.
Adapun tema yang diambil adalah Living A Holy Life Is The Best Choice ( Hidup kudus itu pilihan yang terbaik) dengan sub tema yang terambil dari 1 Perus 1:16 yang berbunyi demikian, “Kuduslah kamu sebab AKU kudus.” Tema tersebut disampaikan melalui session – session yang dilakukan pada saat retreat berlangsung, dalam ceramah, diskusi, permainan dan dalam kegiatan outbound.
 Melalui kegiatan ini peserta didik menerima pembinaan khususnya dalam  pembentukan karakter tanggung jawab dan disiplin. Secara Rohani sesuai dengan tema retreat yaitu Living A Holy Life Is The Best Choice, para peserta didik dibina untuk mempunyai gaya hidup yang benar. Gaya hidup yang benar disini dimaksudkan bahwa peserta didik diharapkan dapat menggunakan media teknologi dengan benar dan tepat sehingga mereka tidak terjerumus dalam pornografi dan melakukan kecurangan ( cheating).
Pengaruh dari kegiatan retreat ini sudah dirasakan oleh seluruh pihak yang terlibat. Baik guru maupun seluruh peserta didik mengatakan bahwa ada perubahan sikap positif yang merupakan hasil dari kegiatan tersebut. Ibu Ratnawulan selaku ketua panitia retreat mengungkapkan ,” Setelah acara retreat ada perubahan pada peserta didik walaupun itu tidak sempurna karena segala sesuatu membutuhkan proses. Dari kegiatan ini anak - anak itu , lebih santun , lebih jujur dalam mengerjakan ulangan –ulangan, lebih sungguh –sungguh belajar walupun belum seratus persen tetapi ada peningkatan.”
Peserta didik sangat menikmati acara retreat ini karena acara ini dikemas bukan hanya berisi materi - materi rohani yang sesuia dengan tema saja tetapi juga ada games  - games yang fun yang membuat mereka benar - benar menikmati acara ini. Acara yang dikemas menarik oleh team Point Eleven ini  sudah berhasil menciptakan rasa kekeluargaan yang tinggi pada keluarga besar SMA Immanuel sehingga tercipta kekompakan dan kerukuan bagi  eluruh keluarga SMA Immanuel. 
      

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH



                                                                                            
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH

Multikulturalisme berasal dari adanya suatu kebudayaan. Secara etimologi, multikulturalisme terdiri dari multi yang berarti “banyak”, kultur yang berarti “budaya”, dan isme yang berarti paham “aliran”. Jadi, multikulturalisme adalah suatu paham, corak, kegiatan, yang terdiri dari banyak budaya pada suatu daerah tertentu.
Multikulturalisme di Indonesia merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindarkan. Namun pada kenyataannya kondisi demikian tidak pula diiringi dengan keadaan sosial yang membaik. Bahkan banyak terjadinya ketidak teraturan dalam kehidupan sosial di Indonesia pada saat ini yang menyebabkan terjadinya berbagai ketegangan dan konflik. 
Seiring dengan perkembangan zaman yang dipengaruhi oleh adanya globalisasi banyak terjadi krisis sosial-budaya yang terjadi di masyarakat. Misalnya seperti merosotnya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum, etika, moral, dan kesantunan sosial. Semakin luasnya penyebaran narkotika dan penyakit-penyakit sosial lainnya.
Oleh karena itu, pendidikan dianggap tempat yang tepat untuk membangun kesadaran multikulturalisme di Indonesia. Melalui pendidikan multikultural, diharapkan dapat mewujudkan keteraturan dalam kehidupan sosial-budaya di Indonesia.
Pendidikan multikultural hingga saat ini belum dapat didefinisikan secara baku. Namun, ada beberapa pendapat para ahli mengenai pendidikan multikultural. Diantaranya adalah Andersen dan Cusher (1994:320) mengartikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Kemudian, James Banks (1993: 3) mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya, pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugerah Tuhan). Dimana dengan adanya kondisi tersebut kita mampu untuk menerima perbedaan dengan penuh rasa toleransi.
Seperti definisi di atas, Muhaemin el Ma’haddi berpendapat bahwa pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebagai pendidikan keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan.
Adapun Paulo Freire seorang pakar pendidikan pembebasan mendefinisikan bahwa pendidikan bukan merupakan “menara gading” yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Melainkan pendidikan itu harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan suatu kelas sosial sebagai akibat dari kekayaan dan kemakmuran yang diperolehnya.[1]
Pendidikan multikultural merupakan respons terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Hal ini dapat diartikan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan yang mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya, seperti gender, etnis, ras, budaya, strata sosial, dan agama.
James Bank menjelaskan, bahwa pendidikan multikultural memiliki beberapa dimensi yang saling berkaitan satu dengan yang lain, yaitu:
1.   Content Integration, yaitu mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep dasar, generalisasi, dan teori dalam mata pelajaran / disiplin ilmu.
2.  The knowledge construction process, yaitu membawa siswa untuk memahami implikasi budaya kedalam sebuah mata pelajaran.
3.   An equity paedagogy, yaitu menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya, ataupun sosial.
4.  Prejudice reduction, yaitu mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka. Kemudian, melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, berinteraksi dengan seluruh staff dan siswa yang berbeda etnis dan ras dalam upaya menciptakan budaya akademik yang toleran dan inklusif.
 Sejak awal kemunculannya, pendidikan berbasis multikulturalisme atauMulticultural Based Education, telah didefinisikan dalam banyak cara dan berbagai perspektif. Dalam terminologi ilmu-ilmu pendidikan dikenal dengan pendidikan multikultural (multicultural education) seperti yang digunakan dalam konteks kehidupan di negara-negara barat.[3] Sejumlah definisi tersebut terikat dalam disiplin ilmu tertentu, seperti pendidikan antropologi, sosial, psikologi, dan lain sebagainya.
Dalam buku Multicultural Education: A Teacher Guide to Linking Context, Process, and Content mengungkapkan definisi klasik mengenai Multicultural Based Education yang penting bagi para pendidik. Definisi pertama yaitu menekankan esensi Multicultural Based Learning sebagai perspektif yang dialami oleh masing-masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragam secara kultur. Definisi ini juga merefleksikan pentingnya budaya, ras, gender, etnisitas, agama, status sosial, ekonomi, dan pengecualian-pengecualian dalam proses pendidikan.  
Definisi lain mengartikan bahwa Multicultural Based Education adalah sebuah visi tentang pendidikan yang selayaknya dan seharusnya bisa untuk semua anak didik.Multicultural Based Education manyiapkan anak didik untuk berkewarganegaraan dalam komunitas budaya dan bahasa yang majemuk dan saling terkait.
Multicultural Based Education juga berkenaan dengan perubahan pendidikan yang signifikan. Ia menggambarkan realitas sosial, ekonomi, dan politik secara luas dan sistematis sehingga dapat mempengaruhi segala sesuatu yang terjadi di dalam sekolah dan luar sekolah. Multicultural Based Education memperluas kembali praktek yang patut dicontoh, dan berupaya memperbaiki berbagai kesempatan pendidikan optimal yang tertolak. Ia membahas pula seputar penciptaan lembaga-lembaga pendidikan yang menyediakan lingkungan pembelajaran yang dinamis, yang mencerminkan cita-cita persamaan, kesetaraan, dan keunggulan.
       Indonesia adalah negara yang terdiri dari beragam masyarakat yang berbeda seperti agama, suku, ras, kebudayaan, adat istiadat, bahasa, dan lain sebagainya menjadikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang majemuk. Dalam kehidupan yang beragam seperti ini menjadi tantangan untuk mempersatukan bangsa Indonesia menjadi satu kekuatan yang dapat menjunjung tinggi perbedaan dan keragaman masyarakatnya.
       Hal ini dapat dilakukan dengan pendidikan multikultural yang ditanamkan kepada anak-anak lewat pembelajaran di sekolah maupun di rumah. Seorang guru bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan terhadap anak didiknya dan dibantu oleh orang tua dalam melihat perbedaan yang terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun pendidkan multikultural bukan hanya sebatas kepada anak-anak usia sekolah tetapi juga kepada masyarakat Indonesia pada umumnya lewat acara atau seminar yang menggalakkan pentingnya toleransi dalam keberagaman menjadikan masyarakat Indonesia dapat menerima bahwa mereka hidup dalam perbedaan dan keragaman.
       Ada tiga tantangan besar dalam melaksanakan pendidikan multikultural di Indonesia, yaitu:
1.      Agama, suku bangsa dan tradisi
2.      Kepercayaan
3.      Toleransi
      
Adapun terdapat juga  pentingnya pendidikan multikultural di sekolah yaitu sebagai
1.         Sarana alternatif pemecahan konflik
2.         Agar peserta didik tidak meinggalkan akar budaya
3.         Sebagai landasan pengembangan kurikulum nasional
4.         Menuju masyarakat Indonesia yang Multikultural
Pendidikan di Indonesia yang masyarakatnya terdiri dari berbagai macam ras, suku budaya, bangsa, dan agama dirasa penting untuk menerapkan pendidikan multikultural. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa dengan masyarakat Indonesia yang beragam inilah seringkali menjadi penyebab munculnya berbagai macam konflik.
Seiring dengan perkembangan zaman dan waktu juga dapat mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga banyak terjadi berbagai macam perubahan di masyarakat yang diakibatkan oleh masuknya berbagai macam budaya baru dari luar negeri ke Indonesia. Melalui pendidikan multikultural yang memperkenalkan budaya asli kepada peserta didik diharapkan agar peserta didik tidak melupakan asal budayanya sendiri.
Namun demikian, pendidikan multikultural tidak hanya dipelajari dalam pendidikan normal saja. Melainkan pendidikan multikultural itu harus dipelajari oleh masyarakat luas, secara non formal melalui berbagai macam diskusi, presentasi. Agar dapat terciptanya masyarakat Indonesia yang tentram dan damai.
Source:
http://emarakhmawati.blogspot.com/2013/02/pentingnya-pendidikan-multikultural-di.html

Kamis, 06 September 2012

MANAJEMEN APIK KUALITAS MEMBAIK



Pendidikan merupakan langkah strategis yang harus digarap untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dimasa yang akan dating. Hasil pendidikan yang berkualitas akan melahirkan generasi yang bermutu. Jika diibaratkan kita menanam sebuah bibit, maka pendidikan adalah proses selama pertumbuhan tanaman. Itulah pendidikan dan hasil yang kita petik adalah buah dari pendidikan itu sendiri. Jadi betapa pentingnya pendidikan untuk menentukan kehidupan generasi di era mendatang.
Drs. Muhamad Puguh, M.Pd memaparkan bahwa pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang dikelola dengan bermutu. “Untuk mewujudkan pendidikan berkualitas diperlukan  pengelolaan/ manajemen penyelenggaraan sekolah yang bermutu”, kata beliau saat ditemui reporter Image di ruang kerjanya.
Lebih rinci lagi pengawas sekolah tingkat SMA/ MA di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Batu ini menandaskan bahwa manajemen sekolah hendaknya memperhatikan empat hal, meliputi School Review, Benchmarking, Quality Assrance dan yang tidak kalah pentingnya ialah Quality Control”. Jika keempat hal ini dapat dipadukan dengan sinergis, maka pendidikan berkualitas itu dapt diwujudkan” tambahnya.
Saat ditanya mengenai pendidikan di SMA Immanuel, Pria kelahiran Kediri, lima puluh tahun silam ini menyampaikan bahwa pendidikan di SMA Immanuel sudah mengacu dan memfokuskan diri pada pencapaian pendidikan yang berkualiats. “Visi dan target pendidikan yang sudah jelas ditambahkan dengan manajemen yang baik, saya percaya mewujudkan pendidikan berkualiats bukan hanya slogan saja bagi sekolah ini” tandasnya dengan penuh keyakinan

SHINE LIKE STAR



Tahun ini perayaan natal bersama sekolah Immanuel kembali digelar. Perayaan yang diikuti oleh semua unit mujlai dari TK, SD, SMP dan SMA dipusatkan di Aula Atas Sekolah Immanuel. Kegiatan yang mengusung tema “Shine Like Star” ini berlangsung begitu meriah. Harapannya setiap peserta didik nantinya dapat hidup menjadi terang dan berkat ditengah dunia yang semakin gelap ini.
Disela – sela perayaan natal ditampilkan juga berbagai atraksi murid – murid dari TK hingga SMA. Mereka menampilkan karya terbaik mulai dari paduan suara, drama, dance hingga gerak dan lagu. Semua bersukacita merayakan natal yang mendamaikan hati. “ Kami mencoba tetap merayakan Natal secara bersama – sama sebagai bentuk kesatuan dan kesehatian warga Immanuel” Papar Wahono, S.Pd, Kepala SMA Immanuel sekaligus ketua FKKSI (Forum Kerja Kepala Sekolah Immanuel)

BATU FESTIVAL FLOWER



BF2 (Batu Flower Festival) merupakan agenda tahunan kota wisata batu. Emang sih bunga adalah mascot kota yang mendedikasikan diri sebagai kota wisata ini, so nuansa bungan diangkat dalam berbagai kegiatan yang salah satunya ialah BF2. Tahun ini benar beda karena BF2 digelar berbarengan dengan kegiatan Bakupada Sedunia yang ditempatkan di Stadion Gelora Brantas.
“Kami pengen donk menampilkan something khusus untuk dipamerin di BF2 yang spektakuler” ujar Ibu Isty yang pada saat itu menjadi ketua panitia sekolah untuk kegiatan BF2 tahun ini. Benar saja, SMA Immanuel tidak main – main menampilkan karyanya diajang yang boleh dibilang “WOW” tahun ini. Ditangan seniman – seniman sekolah ini lahirlah karya yang tampak begitu mempesona.
Gaun putih sepanjang lebih dari 6 meter dengan lukisan bunga menjadi mascot dan primadona yang mengundang decak kagum penonton. Diiringi dengan gadis – gadis cantik yang memakai pakaian senada juga ikut meramaikan arak – arakan dari SMA Immanuel. ” Kami mencoba menampilkan karya yang perfect untuk kota Batu” tutur Ibu Trisna, designer yang merancang kostum arak – arakan SMA Immanuel

SMA IMMANUEL “BEDA”



Yohana Leuricha, gadis kelahiran Batu, 28 maret 1994 ini merupakan salah satu pelajar SMA Immanuel. Di Sekolah ini dia mengukir begitu banyak prestasi yang membanggakan dalam hidupnya. Dalam ajang MAC-CASE yang diadakan Universitas Machung, dia bersama dengan timnya berhasil memborong tiga piala sekaligus. Juara umum, the best speaker dan the most creative team.
Pemilik nama panggilan Lery ini mengenyam pendidikan yang benar – benar berbeda, ketikan ia menempuh pendidikan di SMA Immanuel. “Disini (SMA Immanuel.red) guru – gurunya sangat perhatian. Jadi serasa ayah ibu sendiri” paparnya ketika ditemui reporter image di sanggar busana Immanuel. Dia juga sempat memberikan perbandingan ketika dia menempuh studi di sekolah negeri.
Saat ditanya soal guru yang “asyik” menurut versi anak pertama dari dua bersaudara ini mengatakan “kalo guru yang muda itu gokil abis dan bias ngertiin muridnya. Kalo guru yang STW(Setengah Tua.red) itu bijaksana, perhatian dan berwibawa. Pokoknya mantab deh.”
Kalau ditanya soal lingkungan belajar, siswi alumnus anggota paskibra kota batu tahun 2011 ini mengatakan bahwa SMA Immanuel cocok banget buat nambah mood belajar “jadi on terus deh..” ujarnya mengurai senyum “pokoknya gak nyesel aku sekolah di SMA Immanuel, selain menjadikan aku berprestasi, begitu banyak pengalaman yang aku dapatkan disini. Terimakasih alamaterku, aku bangga padamu” pesannya saat mengakhiri jumpa pers bersama reporter image.
Kawan kita patut bangga dengan SMA Immanuel kita tercinta yang telah mendidik semua dengan kasih dan takut akan Tuhan

Pendidikan Karakte #2



Suara kali ini akan membahas opini tentang SMA Immanuel. Pada kesempatan kali ini reporter image berkesempatan untuk mewawancarai seorang wali murid dari siswa kelas akhir, Abraham Adi Narwastu. Mau tahu bagaimana perbincangan antara reporter imga bersama Bapak Yohanes Mulyadi yang memmberikan berbagai opini seputar SMA Immanuel. Check This Out!
Nama Lengkap            : Yohanes Moeljadi Pranata
TTL                             : Jombang, 26 Maret 1957
Pekerjaan                     : Dosen
Dinas                           : UM, Unesa, UKAPETRA
Gelar                           : Doktor
Apa saja kelebihan yang bapak tahu tentang SMA Immanuel?
Tenaga pendidik dan kependidikan di SMA Immnanuel melayani dengan baik. Mereka mendasarkan pekerjaan mereka dengan hati melayani. Ya meskipun dengan gaji yang minim, mereka dapat memberikan pelayanan terbaik buat anak didik. Disamping itu mereka juga focus dalam memberikan pelajaran dan pelayanan pendidikan person by person. Dengan jumlah peserta didik yang tidak berlebihan membuat hasil didikan di SMA Immanuel terbukti unggul dan berkualitas.
Apakah bapak pernah mendengar isu – isu seputar sekolah Immanuel? Baik isu positif maupun isu negative!
Saya sudah berkeliling ke kota – kota di Indonesia dan sejauh ini belum pernah mendengar berita miring tentang SMA Immanuel. Sebaliknya, gaung prestasi dan pendidikannya yang berkualitas justru banyak saya dengan. Bahkan sering saya jumpai alumni – alumni dari sekolah ini tersebar diberbagai kota dan mereka menjadi orang yang berhasil.
Apakah pendidikan karakter di SMA Immanuel sudah dikatakan berhasil?
Pendiikan karakter sudah dilaksanakan di SMA Immanuel secara nyata. Berhasil atau tidaknya bias kita rasakan di waktu yang akan dating. Namun yang jelas bila dijaga dengan konsisten akan menghasilkan buah output yang berkarakter.
Bagaimana pendapat bapak terhadap SMA Immanuel jika dibandingkan dengan sekolah lain?
SMA Immanuel sangat berbeda dengan intensitas ibadah pagi yang dilakukan setiap pagi. Saya pikir akan sangat besar manfaatnya. Peserta didik diajak untuk menyiapkan diri dengan doa dan firman yang akan memberikan spirit bagi mereka.
Apa kesan terakhir bapak tentang SMA Immanuel ?
SMA Immanuel adalah sekolah yang luar biasa dengan keseriusan mewujudkan pendidikan yang berkualiats. Biaya pendidikan yang murah bukan menjadikan SMA Immanuel sekolah uang murahan

Pendidikan Karakter




“Mewujudkan pendidikan berkualitas berbasis karakter”, tentunya Immanuel tidak akan jauh – jauh dari yang namanya pendidikan karakter. Mungkin ada yang tidak tahu apa yang dimaksud pendidikan karakter. Yup, pendidikan karakter adalah penanaman karakter yang baik yang dilakukan secara terus menerus, baik melalui pembiasaan maupun dalam pembelajaran yang menitik berqatkan pada 18 karakter, yang merupakan cirri dari bangsa Indonesia, misalnya: Religius, Jujur, Tanggung jawab, Disiplin, Kerja Keras, Komunikatif, Nasionalisme, Cinta LIngkungan dan lain sebagainya.
Pendiikan karakter itu sendiri bertujuan untuk memperbaiki karakter bangsa Indonesia yang pada akhir – akhir ini banyak diabaikan. Guru dan siswa sangatlah berperan dalam proses berjalanya pendidikan karakter ini. Namun ketika tim wartawan Immanuel Magazine mengajukan pertanyaan kepada Ibu Surya, “ Apakah pendiikan karakter di SMA Immanuel dapat dikatan berhasil?”. Ibu Surya mengatakan bahwa pendidikan karakter di SMA Immanuel masih belum bias dikatakan berhasil, karena untuk mengukur keberhasilan pendidikan karakter  bukanlah hal yang mudah, karena harus mengamati sikap dari tiap siswa. Pendidikan karakter yang telah diterapkan di SMA Immannuel saat ini ialah Religius, Disiplin dan Cinta Lingkungan yang dilakukan melalui pembiasaan, sedangkan yang lain dimasukan dalam setiap mata pelajaran melalui SK (Standar Kompetensi) dan KD (Kompetensi Dasar) serta indicator dan tujuan.
Perkembangan SMA Immanuel saat ini sedang mengadakan pembenahan baik dalam profesionalisme tenaga pendidik, kelengkapan prasarana dan kualitas pembelajaran bagi peserta didik. Dan SMA Immanuel sendiri mempunyai harapan meningkatkan dan mengevaluasi hasil dari pendidikan karakter untuk kedepannya. Meskipun dilihat dari jumlah siswa tidak banyak mengalami perubahan, namun jika dilihat dari kualitas siswa banyak yang mengalami kenaikan.
Di SMA Immanuel Batu telah dilaksanakan perenovasian kelas, karena kondisi kelas juga sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar, seperti pencahayaan, sirkulasi udara, kebersihan kelas dan kenyamanan kelas. Selain perenovasian kelas, saat ini pihak sekolah berencana menyelesaikan renovasi kamar mandi dan menata kembali penataaan ruang guru. Kesemuanya itu diharapkan agar meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di SMA Immanuel mengalami peningkatan yang signifikan dari segi kualitas hingga menjadi sekolah yang unggul.
Spiritual Building
Menurut kamus bahasa Inggris, kata “Fellowship”  berarti persahabatan, persaudaraan, dan keanggotaan. Nah terus apa hubungannya dengan SMA Immanuel? Check this out! Fellowship merupakan salah satu program atau kegiatan spiritual building (membangun kerohanian) yang diadakan di SMA Immanuel setiap hari jumat. Kegiatan ini dibina oleh ibu Ratna dan Bapak Didik, dan tentunya bagi siswa – siswi SMA Immanuel sudah tidak asing lagi dengan Kak Kris. Yup, Kak Kris sangatlah berperan dalam kegiatan Fellowship ini. Beliau terjun langsung dalam mendampingan anak – anak Kristus ini. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun relasi yang kuat dengan Tuhan Allah kita dan juga sesama. Gimana caranya? Yaitu dengan berdoa, mengangkat pujian dan tak jarang mereka share tentang masalah – masalah mereka, ditemani Kak Kris sang mentor. Yang pasti Fellowship ini kegiatan yang sangat menyenangkan dan tidak membosankan bagi mereka yang mengikuti kegiatan ini.
Point Plus SMA Immanuel
Selain pendidikan karakter yang telah dijelaskan diatas, SMA Immanuel juga menjadikan siswa multitalenta. Dengan adanya beberapa program tambahan seperti:
1.      Penguasaan IT
SMA Immanuel bekerja sama dengan Pesona Edu ilearning, sehingga bias dipastikan bahwa siswa – siswi akan benar – benar menguasai IT
2.      Penguasaan Bahasa Asing
Mandarin, Jepang, Jerman dan Inggris
3.      Pengembangan Soft Skill dan Life Skill
4.      Membangun moral dan Karakter
5.      Pengembangan diri
Musik, Paduan Suara, Band, Futsal, Basket & Jurnalistik

Pemilihan Osis SMA Immanuel Batu




Pengurus OSIS 2012-2013
Pesta demoikrasi kembali digelar di SMA Immanuel Batu 07 Januari 2012 lau. Seluruh warga sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, staf dan peserta didik mnyuarakan hak pilihnya dalam pemilihan pengurus OSIS SMA Immanuel Batu masa bakti 2012-2013. Mereka “mencontreng” untuk menentukan siapakah yang menurut mereka pantas menduduki kursi ketua dan wakil ketua OSIS.
Tahap demi tahap dilalui untuk menghasilkan bibit unggul untuk memimpin organisasi sekolah ini. Diawali dengan pendaftaran calon ketua dan wakil ketua yang kemudian dilakukan seleksi administrasi sebelum mereka mengikuti tes tulis dan tes wawancara. Dari hasil tes dijaring tiga pasanga kandidat, yakni nomor urut 1 Even Tri Gideon (X-2) dan Purba Resi Ismoyo (X-1), nomor urut 2 adalah Willy Hindrawan dan Ahmad Barjaos, sedangkan nomor urut 3 adalah Deasy Ayu T dan Dieka Maulida.
Dalam waktu tiga hari mereka diberikan kesempatan untuk menggaet massa melalui kampanye terbuka. Ketiganya berlomba untuk memperoleh dukungan dengan memaparkan program – program yang akan mereka jalankan menakala menjadi ketua dan wakil ketua OSIS. Kampanya berlangsung dengan begitu seru karena masing – masing calon memiliki simpatisan yang mendukung mereka sepenuhnya.
Tidak kalah serunya saat debat calon dilangsungkan dengan mempertemukan ketiga pasangan dalam podium yang sama. Mereka beradu argumen dan berbagai pandangan tentang visi dan misi mereka. Antusias yang tinggi dari pendengar membuat suasana kian memanas dan hidup. Disinilah ketiga kandidat diuji pengetahuan, wawasan dan pengalaman mereka. Ketiganya memang perlu diacungi jempol dan layak untuk mendapatkan amanah sebagai pemimpin.
Bertempat di aula bawah pukul 08.00 WIB tepat pemungutan suara dilangsungkan. Seluruh warga immanuel berduyun – duyun mengganti utnuk menyuarakan pilihan mereka, benar – benar seperti pemilu sungguhan. Semuanya diutus sebagai simulasi pemilihan presiden dan cawapres saja. Setelah dilakukan penghitungan suara, pasangan willy dan ahmad barjaos meraih suara terbanyak menyisihkan kedua kandidat lainya.
Tidak cukup sampai disana, pasangan ini kemudian menentukan anggota kabinetnya. Mereka memilih orang – orang yang tepat untuk membantu mereka mewujudkan visi dan misinya. Penyaringan calon pengurus dilakukan kemudian diikuti dengan seleksi untuk menentukan personil yang duduk di kursi pengurus.
Setelah susunan pengurus dibentuk, mereka kemudian mengikuti diklat yang dilakukan selama dua hari di sekolah. Diklat yang diadakan pada tanggal 20 – 21 Januari 2012 ini bertujuan untuk membekali pengurus OSIS sebelum mereka mengembang tugas mulia yang akan disandangnya satu tahun kedepan.
Pengukuhan dan pelantikan adalah puncak dari serangkaian kegiatan yang telah dilakukan. Bertempat di serambi solaiman, pengurus yang telah terbentuk dilantik langsung oleh kepala SMA Immanuel Batu, Wahono, S.Pd. dengan setting acara seperti yang disusun sedemikian rupa menyerupai pelantikan tampak begitu khitmad dan sacral. Setelah pembukaan SK Kepala Sekolah, dilanjutkan dengan pengambilan janji yang dipimpin langsung oleh Bapak Wahono.
Dalam amanatnya  didepan peserta pelantikan “Menjadi pemimpin yang sejati adalah menjadi seorang pelayan yang siap untuk bekerja keras, berkorban paling banyak dan mendahulukan kepentingan bersama”. Pesan inilah yang menjadi semangat bagi pengurus OSIS untuk sehati sepikir menjalankan tugas mereka.
Dijumpai di kesempatan berbeda Pembina OSIS, Eko Januar Wibowo memaparkan bahwa pembenahan kembali kinerja pengurus OSIS akan terus diupayakan untuk mewujudkan  tujuan organisasi ini. Selamat untuk pengurus yang telah terbentuk selat bekerja dan mengabdikan diri utnuk organisasi ini.